Pages

Senin, 11 November 2013

Nyak MU............

Aceh Besar.Memasuki Desa Siem di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar,terlihat suasana kampung yang tenang layaknya sebuah perkampungan yang jarang dikunjungi oleh pendatang.
Ruas jalan berlubang di sana sini mulai dari persimpangan Tungkop hingga ke tempat tujuan. Membuat perjalanan menjadi sedikit agak membosankan bahkan melelahkan.Namun siapa sangka, ratusan tahun silam di desa ini terdapat sebuah peternakan dan pengembangbiakan kepompong yang menghasilkan benang sutera dan hasilnya dijual ke negara lain.

Di ujung gang yang tertulis Lorong Tenun Songket, tinggal seorang wanita yang pada masa kejayaan kerajinan tersebut adalah cucu dari peternak sekaligus ulat sutera sekaligus pemilik usaha tenun songket.

Tidak banyak yang tahu nama asli pemilik tenun songket tersebut namun apabila ditanya dimana rumah Nyak Mu maka tidak seorang pun di Desa Siem yang menggelengkan kepala dalam arti tidak tahu.

Rumah panggung bergaya khas Aceh dengan pintu pagar terbuat dari besi terlihat agak lengang. Sebuah spanduk masih terpampang di atas gerbang bertuliskan pelatihan yang dilaksanakan oleh Satker BRR Life Skill dan ASEPHI.

Mendengar suara pintu besi dibuka, seorang wanita paruh baya keluar dari rumah yang terletak di samping kanan rumah induk. Dari celah-celah jeruji terbuat dari papan nampak berapa orang wanita asyik memasukkan benang emas dicelah-celah benang sutera yang akan ditenun menjadi kain songket.

Setelah mengemukakan maksud dan tujuan kedatangan AER, wanita yang ternyata puteri bungsu Nyak Mu langsung mengajak masuk ke rumah utama.

Beberapa saat muncul seorang wanita dengan sisa kecantikan yang dimiliki mengulurkan tangan sambil tersenyum, dia adalah Hj.Maryamu atau yang dikenal dengan panggilan Nyak Mu.
Tanpa basa basi, didampingi Dahlia (45) puteri semata wayang wanita yang sudah banyak makan asam garam dalam industri kerajinan ini menceritakan awal berdirinya usaha tenun songket di Desa Siem seolah ia ingin berbagi kisah tentang kejayaan tenun songket Aceh dahulu.
Waktu berjalan bak roda yang terus berputar, terkadang di atas terkadang pula di bawah. Setelah mahir maka usaha yang semula dijalankan oleh ibunya akhirnya ia lanjutkan.
Dari sebatang kayu pemintal dan benang emas yang dijalin pada helai sutera, lahir pula generasi-generasi penerus yang diharapkan mampu meneruskan apa yang dimilikinya.
Sambil duduk di sudut ruangan, wanita kelahiran 70 tahun silam ini mengatakan kalau masa kejayaannya berawal pada saat Aceh masih dipimpin oleh Gubernur Nyak Adam Kamil. Usaha tenunnya sendiri dimulai tahun 1971 atas binaan Ibu Hayyatun Nufus.Beliau adalah Kepala Dinas Perindustrian Aceh pada saat itu.

Bekerja tanpa pamrih, tidak pernah terpikir dibenaknya untuk membanggakan kebolehan yang ada.
Penghargaan Upakarti dari pemerintah pusat diberikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1991 atas keberhasilannya mengembangkan kelompok penenun songket.

Tak ada rasa bangga yang berlebihan karena dengan kepolosan pikirannya Nyak Mu hanya ingin menyambung hidup dari usaha kerajinan yang ia rintis.

Selain memintal, wanita yang menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa sehari-sehari ini ternyata pandai menciptakan kreatifitas terhadap motif-motif yang akan ia pilih. Salah satu motif ciptaannya adalah motif Bungong Kertas.

Keahlian yang diturunkan almarhumah Naimah neneknya, atau dulu dikenal dengan panggilan Nyak Na’im tidak pernah dilupakan.

Benda pusaka berupa kain songket yang sudah usang berwarna coklat berukuran 50×50 berusia lebih kurang seratus tahun itu diperlihatkan

Sembari menjelaskan bahwa dari kain inilah ide-ide itu pertama kali muncul.
Pada dasar kain terlihat berbagai motif yang disulam rapi yang tidak dapat dihitung dengan jari jumlahnya.
Menurut Dahlia, songket tua berwarna coklat itu merupakan pedoman dalam bekerja karena dulu tidak ada buku sehingga nenek ewariskannya sebagai pengganti buku.
Pada tahun 1992, motif-motif yang sudah diberi nama itu dibukukan oleh Dinas Perindustrian Propinsi Aceh dengan judul: “Aneka Songket Motif Aceh” dimana nara sumbernya adalah Nyak Mu.
Motif-motif tersebut diantaranya: motif Pucok Aron, Phacangguk, Bungong Peut Saga, Bungong Gasing, Bungong Rante Lhe, Timpeung, Mata Uro, Bungong Kala, Pucok Meuriya, Bungong Reudeup, dan banyak lagi jenis lainnya.

Pasang Surut Usaha Tenun Songket

Banyak suka duka yang dilalui dalam menjalankan usaha tenun songket, berawal dari kriss smoneter, konflik yang terjadi antara pemerintah dengan Gerakan Aceh Merdeka hingga bencana tsunami.
Saat krisis moneter, banyak petenun songket yang menghentikan usahanya karena harga bahan baku terlalu tinggi sehingga sulit untuk mematok harga.

Desa yang dulunya dikenal sebagai lumbung songket dimana terdapat 150 bahkan lebih para pemilik usaha tenunan akhirnya satu persatu gulung tikar.
http://1.bp.blogspot.com/-pmNo6IxIPtg/ThSlZE_mgLI/AAAAAAAAA_Q/uY1Uraot_GI/s320/songketAceh040210.jpg
Seorang perajin menenun kain songket menggunakan peralatan tradisional ATKT (Alat Tenun Kaki Tangan) di daerah sentra pengrajin, Desa Siem, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (4/2). Kain songket motif Aceh yang sudah dipatenkan dengan harga mencapai Rp800.000/lembar (1,8 meter) tersebut memiliki peluang pasar cukup cerah di dalam negeri dan termasuk Malaysia. (*ampelsa/ant/bo)- Mata News 

Tidak hanya “krismon” yang mematikan usaha kerajinan songket Aceh, konflik berkepanjangan membuat pembeli enggan datang ke Desa Siem karena dianggap rawan.
Cobaan bertubi-tubi terus menimpa, diantara peristiwa pahit yang masih membekas dalam pikiran Nyak Mu ketika bahan baku pesanannys dari Palembang terkena tembakan saat dilakukan razia di jalan. Uliran benang rusak dan tidak bisa digunakan lagi, mengakibatkan ia menderita kerugian yang tidak sedikit. Belum habis masa konflik, terjadi tsunami yang meluluhlantakkan kota Banda Aceh dan sekitarnya dan merusak seluruh sendi kehidupan.
Meski Desa Siem jauh dari amukan tsunami, tapi bahan baku yang digunakan untuk tenunan disimpan di rumah salah seorang puteranya di Kampung Laksana habis tersapu air.
Padahal waktu itu ada pembeli yang memesan songket sebanyak seratus helai dan baru dipanjar sebesar lima juta rupiah. Bahannya masih disimpan di Kampung Laksana dan tidak sempat diselamatkan.
“Kamoe rugoe na limong ploh juta,” tuturnya dalam bahasa Aceh sambil merunduk sedih.
Kerugian sekitar lima puluh juta tidak membuat ia putus asa kaena menurutnya rejeki itu datang dari Allah.
Hanya sesaat menahan sedih, ada rasa bangga tercermin di wajah wanita yang sejak lahir hingga usia senja ini lebih memilih menetap di Desa kelahirannya. Ketika ditanya tentang murid-murid dulu apakah ada yang mengikuti jejak gurunya. Dengan wajah berseri-seri Nyak Mu menyebut satu persatu murid yang berhasil seperti Asma dan Faridah. Kedua muridnya ini sudah membuka usaha sendiri di Lamno Kabupaten Aceh Jaya. Juga Jasmani yang menyusul membuka usaha di Desa Miruk Taman Lambaro.
Sudah tidak terhitung berapa banyak pelatihan yang diadakan di tempat usahan milik Nyak Mu. Bahkan para peserta banyak yang berasal dari daerah lain seperti Aceh Barat, Montasik, Simpang Ulim, dan kabupaten lainnya di Aceh.
Atas pertimbangan usia dan kondisi kesehatan, sekarang Nyakmu hanya mengawasi saja apa yang dikerjakan pegawainya namun bukan berarti ia lepas tangan. Setiap saat Nyak Mu datang dan memeriksa hasil kerjaan mereka agar motif yang dibuat tidak lari dari keinginN si pemesan.
Karya-karya Nyak Mu sudah pernah dipamerkn di berbagai pameran songket pada era 80an-90an seperti di Bali, Jakarta bahkan di luar Indonesia yaitu Malaysia, Singapura, Srilangka dan lain-lain.
Keistimewaan dari usaha miliknya, songket buatan Nyak Mu tidak dipasarkan di toko atau tempat benda-benda souvenir. Pembeli sudah tahu dan biasanya datang sendiri ke Desa Siem untuk membeli dengan cara memesan terlebih dahulu
Harga songket yang dijual bervariasi sesuai motif yang diinginkan namun harga standardnya adalah Rp.1000.000 an. Nyak Mu mengakui songket yang dijualnya memang mahal tetapi semuanya dikarenakan bahan baku untuk pembuatan songket harus didatangkan dari luar.
Uniknya lagi, motif yang dibuat bukan dilekatkan pada kain tetapi benag emas dijalin satu persatu pada helai benang sutera.
Pembuatan songket memakan waktu yang lumayan lama, bisa sembilan atau sepuluh hari bila dikerjakan terus menerus.
Untuk menggulung benang sutera yang akan ditenun waktunya adalah dua puluh hari. Jadi satu kain songket memakan waktu yang cukup panjang yaitu satu bulan.
Segudang pengalaman dibarengi pengalaman dan jasa-jasanya kepada negeri seharusnya membawa Nyak Mu kepada kehidupan yang jauh lebih mewah dibanding sekarang.
Namun Nyak Mu hanyalah wanita biasa yang hanya memberikan emas tanpa berharap intan.
Akankah seratus tahun mendatang masih ada orang yang akan berbagi kisah tentang kejayaan songket Aceh…?

Kamis, 14 Februari 2013

PRODUK KELOMPOK SPP PNPM-MP KEC DARUSSALAM

Kelompok SPP Taman  Indah
Telpon :  085260052162         

 

Songket aceh



Songket aceh diproduksi oleh anggota kelompok SPP Taman Indah Desa Miruk Taman Kec. Darussalam Ada berbagai macam Corak yang diproduksikan,Harga Berkisar antara Rp. 200.000 S/d Rp. 2.000.000



Kelompok SPP Wanita Mandiri                             
Telpon :  085277595645
Meusekat & Dodoi
Meusekat & Dodoi Adalah menjadi kue favorit disaat acara pesta perkawinan dan menjadi isi talam pada acara antar pengantin Laki-laki (antat Linto Baro) maupun penganten perempuan (Preeh Dara Baro) yang sudah menjadi tradisi  di Aceh          yang diproduksi oleh Kelompok SPP Udeep Saree Gampong Blang.  


Kelompok TANJONG INDAH  
Telpon :  085260990196

Boi (Bolu)

Boi atau bolu yang diproduksikan oleh anggota kelompok SPP Tanjong Indah Gampong Tanjong Deah Kec. Darussalam, Juga anggota ini juga memproduksikan berbagai macam jenis kue bolu.



Kelompok WANITA MANDIRI                                
Telpon :  085277979775

Kasab Aceh

Kasab Aceh Diproduksikan oleh kelompok SPP Wanita Mandiri  Gampong Lambaro Sukon Kec. Darussalam


Kelompok SPP Wanita Mandiri                               
Telpon :  085277595645

Karah
Karah merupakan Kue yang di sajikan saat acara resmi Aceh, Yang diproduksikan oleh Anggota Kelompok SPP Wanita Mandiri Gampong Lambaro Sukon Kec. Darussalam 














Minggu, 29 April 2012

SEJARAH KEBUDAYAAN ACEH


SEJARAH KEBUDAYAAN  ACEH
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki suku dan budaya yang beraneka ragam. Masing-masing budaya daerah saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebudayaan daerah lain maupun kebudayaan yang berasal dari luarIndonesia. Salah satu kebudayaan tersebut adalah kebudayaan Aceh. Sejarah dan perkembangan suku bangsa Aceh juga menarik perhatian para antropolog seperti Snouck Hurgronje. Dilihat dari sisi kebudayaannya, Aceh memiliki budaya yang unik dan beraneka ragam. Kebudayaan Aceh ini banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya melayu, karena letak Aceh yang strategis karena merupakan jalur perdagangan maka masuklah kebudayaan Timur Tengah. Beberapa budaya yang ada sekarang adalah hasil dari akulturasi antara budaya melayu, Timur Tengah dan Aceh sendiri.
Suku bangsa yang mendiami Aceh merupakan keturunan orang-orang melayu dan Timur Tengah hal ini menyebabkan wajah-wajah orang Aceh berbeda dengan orang Indonesia yang berada di lain wilayah. Sistem kemasyarakatan suku bangsa Aceh, mata pencaharian sebagian besar masyarakat Aceh adalah bertani namun tidak sedikit juga yang berdagang. Sistem kekerabatan masyarakat Aceh mengenal Wali, Karong dan Kaom yang merupakan bagian dari sistem kekerabatan.
Agama Islam adalah agama yang paling mendominasi di Aceh oleh karena itu Aceh mendapat julukan ”Serambi Mekah”. Dari struktur masyarakat Aceh dikenal gampong, mukim, nanggroe dan sebagainya. Tetapi pada saat-saat sekarang ini upacara ceremonial yang besar-besaran hanya sebagai simbol sehingga inti dari upacara tersebut tidak tercapai. Pergeseran nilai kebudayaan tersebut terjadi karena penjajahan dan fakttor lainnya.
Dari hal-hal yang telah diuraikan diatas menurut saya menarik, maka saya mengangkat makalah ini dengan judul ”Kebudayaan Suku Aceh”.

A. LETAK
            Kelompok etnik Aceh adalah salah satu kelompok "asal" di daerah Aceh yang kini merupakan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Orang Aceh yang biasa menyebut dirinya Ureueng Aceh, menurut sensus penduduk tahun 1990 mencatat jumlah sebesar 3.415.393 jiwa, dimana orang Aceh tentunya merupakan kelompok mayoritas. Orang Aceh merupakan penduduk asli yang tersebar populasinya di Daerah Istimewa Aceh. Mereka mendiami daerah-daerah Kotamadya Sabang, Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Selatan, dan Aceh Barat. Bahasa yang digunakan orang Aceh termasuk dalam rumpun bahasaAustronesia yang terdiri dari beberapa dialek, antara lain dialek Pidie, Aceh Besar, Meulaboh, serta Matang. Di Propinsi D.I. Aceh terdapat pula sedikitnya tujuh sukubangsa lainnya, yaitu : Gayo, Alas, Tamiang, Aneuk Jamee, Simeuleu, Kluet, dan Gumbok Cadek. Identitas bersama berdasarkan ikatan kebudayaan dan agama mencerminkan kesatuan suku-suku bangsa di propinsi ini. Dalam pergaulan antarsuku bangsa jarang sekali penduduk asli Aceh menyebut dirinya orang Gayo, Alas, Tamiang, dan seterusnya. Mereka lebih suka menyebut diri sebagai "Orang Aceh", sehingga Aceh patut dipandang sebagai suatu sukubangsa besar yang didukung oleh sejumlah sub-sukubangsa dengan identitas masing-masing. Ciri-ciri ini pula yang mengukuhkan propinsi Aceh sebagai Daerah Istimewa.

B. KEHIDUPAN MASYARAKAT
1Mata Pencaharian
            Mata pencaharian pokok orang Aceh adalah bertani di sawah dan ladang, dengan tanaman pokok berupa padi, cengkeh, lada, pala, kelapa, dan lain-lain. Masyarakat yang bermukim_ di sepanjang pantai pada umumnya menjadi nelayan.
            Sebagian besar orang Alas hidup dari pertanian di sawah atau ladang, terutama yang bermukim di kampung (kute). Tanam Alas merupakan lumbung padi di Daerah Istimewa Aceh. Di samping itu penduduk beternak kuda, kerbau, sapi, dan kambing, untuk dijual atau dipekerjakan di sawah.
            Mata pencaharian utama orang Aneuk Jamee adalah bersawah, berkebun, dan berladang, serta mencari ikan bagi penduduk yang tinggal di daerah pantai. Di samping itu ada yang melakukan kegiatan berdagang secara tetap (baniago), salah satunya dengan cara menjajakan barang dagangan dari kampung ke kampung (penggaleh). Matapencaharian pada masyarakat Gayo yang dominan adalah berkebun, terutama tanaman kopi.
            Matapencaharian utama orang Tamiang adalah bercocok tanam padi di sawah atau di ladang. Penduduk yang berdiam di daerah pantai menangkap ikan dan membuat aran dari pohon bakau. Adapula yang menjadi buruh perkebunan atau pedagang.

2Sistem Kekerabatan
            Dalam sistem kekerabatan, bentuk kekerabatan yang terpenting adalah keluarga inti dengan prinsip keturunan bilateral. Adat menetap sesudah menikah bersifat matrilokal, yaitu tinggal di rumah orangtua istri selama beberapa waktu. Sedangkan anak merupakan tanggung jawab ayah sepenuhnya.
            Pada orang Alas garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal atau menurut garis keturunan laki-laki. Sistem perkawinan yang berlaku adalah eksogami merge, yaitu mencari jodoh dari luar merge sendiri. Adat menetap sesudah menikah yang berlaku bersifat virilokal, yang terpusat di kediaman keluarga pihak laki-laki. Gabungan dari beberapa keluarga luas disebut tumpuk. Kemudian beberapa tumpuk bergabung membentuk suatu federasi adat yang disebut belah (paroh masyarakat).
Dalam sistem kekerabatan tampaknya terdapat kombinasi antara budaya Minangkabau dan Aceh. Garis keturunan diperhitungkan berdasarkan prinsip bilateral, sedangkan adat menetap sesudah nikah adalah uxorilikal (tinggal dalam lingkungan keluarga pihak wanita). Kerabat pihak ayah mempunyai kedudukan yang kuat dalam hal pewarisan dan perwalian, sedangkan ninik mamak berasal dari kerabat pihak ibu. Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah keluarga inti yang disebut rumah tanggo. Ayah berperan sebagai kepala keluarga yang mempunyai kewajiban memenuhi kebutuhan keluarganya. Tanggung jawab seorang ibu yang utama adalah mengasuh anak dan mengatur rumah tangga.
Pada masyarakat gayo, garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal. Sistem perkawinan yang berlaku berdasarkan tradisi adalah eksogami belah, dengan adat menetap sesudah nikah yang patrilokal (juelen) atau matriokal (angkap). Kelompok kekerabatan terkecil disebut saraine (keluarga inti). Kesatuan beberapa keluarga inti disebut sara dapur. Pada masa lalu beberapa sara dapur tinggal bersama dalam sebuah rumah panjang, sehingga disebut sara umah. Beberapa buah rumah panjang bergabung ke dalam satu belah (klen).
Dalam sistem kekerabatan masyarakat Tamiang digunakan prinsip patrilineal, yaitu menarik garis keturunan berdasarkan garislaki-laki. Adat menetap sesudah nikah yang umum dilakukan adalah adat matrilokal, yaitu bertempat tinggal di lingkungan kerabat wanita.

3. Sistem Pelapisan Sosial
            Pada masa lalu masyarakat Aceh mengenal beberapa lapisan sosial. Di antaranya ada empat golongan masyarakat, yaitu golongan keluarga sultan, golongan uleebalang, golongan ulama, dan golongan rakyat biasa. Golongan keluarga sultan merupakan keturunan bekas sultan-sultan yang pernah berkuasa. Panggilan yang lazim untuk keturunan sultan ini adalah ampon untuk laki-laki, dan cut untuk perempuan. Golongan uleebalang adalah orang-orang keturunan bawahan para sultan yang menguasai daerah-daerah kecil di bawah kerajaan. Biasanya mereka bergelar Teuku. Sedangkan para ulama atau pemuka agama lazim disebut Teungku atau Tengku.
Pada masa lalu orang Aneuk Jamee dibedakan atas tiga lapisan masyarakat, yaitu golongan datuk sebagai lapisan atas; golongan hulubalang dan ulama, yang terdiri atas tuangku, imam, dan kadi sebagai lapisan menengah; dan rakyat biasa sebagai lapisan bawah. Sekarang ini sistem pelapisan sosial tersebut sudah tidak diberlakukan lagi dalam masyarakat. Yang kini dianggap sebagai orang terpandang adalah orang kaya, terdidik, dan pemegang kekuasaan.
            Pada masa masyarakat Tamiang dikenal penggolongan masyarakat atas tiga lapisan sosial, yakni ughang bangsawan, ughang patoot, dan ughang bepake. Golongan pertama terdiri atas raja beserta keturunannya. yang menggunakan gelar Tengku untuk laki-laki dan Wan untuk perempuan; golongan kedua adalah orang­orang yang memperoleh hak dan kekuasaan tertentu dari raja, yang memperoleh gelar Orang (Kaya); dan golongan ketiga merupakan golongan orang kebanyakan.

C. SISTEM KEMASYARAKATAN
            Bentuk kesatuan hidup setempat yang terkecil disebut gampong (kampung atau desa) yang dikepalai oleh seorang geucik atau kecik. Dalam setiap gampong ada sebuah meunasah (madrasah) yang dipimpin seorang imeum meunasah. Kumpulan dari beberapa gampong disebut mukim yang dipimpin oleh seorang uleebalang, yaitu para panglima yang berjasa kepada sultan. Kehidupan sosial dan keagamaan di setiap gampong dipimpin oleh pemuka-pemuka adat dan agama, seperti imeum meunasah, teungku khatib, tengku bile, dan tuha peut (penasehat adat).
Pada masa lalu Tanah Alas terbagi atas dua daerah kekuasaan yang dipimpin oleh dua orang kejerun, yaitu daerah Kejerun Batu Mbulan dan daerah Kejerun Bambel. Kejerun dibantu oleh seorang wakil yang disebut Raje Mude, dan empat unsur pimpinan yang disebut Raje Berempat. Setiap unsur pimpinan Raje Berempat membawahi beberapa kampung atau desa (Kute), sedangkan masing-masing kute dipimpin oleh seorang Pengulu. Suatu kute biasanya dihuni oleh satu atau beberapa klen (merge). Masing-masing keluarga luas menghuni sebuah rumah panjanga.
Masyarakat Gayo hidup dalam komuniti kecil yang disebut kampong. Setiap kampong dikepalai oleh seorang gecik. Kumpulan beberapa kampung disebut kemukiman, yang dipimpin oleh mukim. Sistem pemerintahan tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat, terdiri dari : reje, petue, imeum, dan sawudere. Pada masa sekarang beberapa buah kemukiman merupakan bagian dari kecamatan, dengan unsur-unsur kepemimpinan terdiri atas: gecik, wakil gecik, imeum, dan cerdik pandai yang mewakili rakyat.

D. RELIGI
Aceh termasuk salah satu daerah yang paling awal menerima agama Islam. Oleh sebab itu propinsi ini dikenal dengan sebutan "Serambi Mekah", maksudnya "pintu gerbang" yang paling dekat antara Indonesia dengan tempat dari mana agama tersebut berasal. Meskipun demikian kebudayaan asli Aceh tidak hilang begitu saja, sebaliknya beberapa unsur kebudayaan setempat mendapat pengaruh dan berbaur dengan kebudayaan Islam. Dengan demikian kebudayaan hasil akulturasi tersebut melahirkan corak kebudayaan Islam-Aceh yang khas. Di dalam kebudayaan tersebut masih terdapat sisa-sisa kepercayaan animisme dan dinamisme.

E. BAHASA
Bahasa yang digunakan orang Aceh termasuk dalam rumpun bahasaAustronesia yang terdiri dari beberapa dialek, antara lain dialek Pidie, Aceh Besar, Meulaboh, serta Matang.
Sebagai alat komunikasi sehari-hari orang Alas menggunakan bahasa sendiri, yaitu bahasa Alas. Penggunaan bahasa ini dibedakan atas beberapa dialek, seperti dialek Hulu, dialek Tengah, dan dialek Hilir. Dengan demikian orang Alas dibedakan berdasarkan penggunaan dialek bahasa tersebut.
Dilihat dari segi bahasa, kosa kata bahasa Aneuk Jamee yang berasal dari bahasa Minangkabau lebih dominasi daripada kosa kata bahasa Aceh. Penggunaan bahasa Aneuk Jamee dibedakan atas beberapa dialek, antara lain dialek Samadua dan dialek Tapak Tuan.
Bahasa Gayo digunakan dalam percakapaan sehari-hari. Penggunaan bahasa Gayo dibedakan atas beberapa dialek, seperti dialek Gayo Laut yang terbagi lagi menjadi sub-dialek Lut dan Deret, dan dialek Gayo Luwes yang meliputi sub-dialek Luwes, Kalul, dan Serbejadi.
Orang Tamiang memiliki bahasa sendiri, yaitu bahasa Tamiang, yang kebanyakan kosa katanya mirip dengan bahasa melayu. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa bahasa Tamiang merupakan salah satu dialek dari bahasa Melayu. Bahasa Tamiang ditandai oleh mengucapkan huruf r menjadi gh, misalnya kata "orang" dibaca menjadi oghang. Sementara itu huruf t sering c, misalnya kata "tiada" dibaca "ciade".

F. KESENIAN
Corak kesenian Aceh memang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam, namun telah diolah dan disesuaikan dengan nilai-nilai budaya yang berlaku. Seni tari yang terkenal dari Aceh antara lain seudati, seudati inong, dan seudati tunang. Seni lain yang dikembangkan adalah seni kaligrafi Arab, seperti yang banyak terlihat pada berbagai ukiran mesjid, rumah adat, alat upacara, perhiasan, dan sebagainnya. Selain itu berkembang seni sastra dalam bentuk hikayat yang bernafaskan Islam, seperti Hikayat Perang Sabil.
Bentuk-bentuk kesenian Aneuk Jamee berasal dari dua budaya yang berasimilasi.. Orang Aneuk Jamee mengenal kesenian seudati, dabus (dabuih), dan ratoh yang memadukan unsur tari, musik, dan seni suara. Selain itu dikenal kaba, yaitu seni bercerita tentang seorang tokoh yang dibumbui dengan dongeng.
Suatu unsur budaya yang tidak pernah lesu di kalangan masyarakat Gayo adalah kesenian, yang hampir tidak pernah mengalami kemandekan bahkan cenderung berkembang. Bentuk kesenian Gayo yang terkenal, antara lain tan saman dan seni teater yang disebut didong. Selain untuk hiburan dan rekreasi, bentuk-bentuk kesenian ini mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat. Di samping itu ada pula bentuk kesenian bines, guru didong, dan melengkap (seni berpidato berdasarkan adat), yang juga tidak terlupakan dari masa ke masa.

G. PERALATAN
Persenjataan
            Orang Aceh terkenal sebagai prajuri-prajurit tangguh penentang penjajah, dengan bersenjatakan rencong, ruduh (kelewang), keumeurah paneuk (bedil berlaras pendek), peudang (pedang), dan tameung (tameng). Senjata-senjata tersebut umumnya dibuat sendiri.

H. SEJARAH
Dalam abad ke XVI, Aceh memegang peranan yang sangat penting sebagai daerah transit barang-barang komoditi dari Timur ke Barat. Komoditi dagang dari nusantara seperti pala dan rempah-rempah dari Pulau Banda, cengkeh dari Maluku, kapur barus dari Barus dan lada dari Aceh dikumpul disini menunggu waktu untuk diberangkatkan ke luar negen. Aceh sebagai bandar paling penting pada waktu itu yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai negara.
Aceh juga dikenal dengan daerah pertama masuknya agama Islam ke nusantara. Para pedagang dari Saudi Arabia, Turki, Gujarat dan India yang beragama Islam singgah di Aceh dalam perjalanan mereka mencari berbagai komoditi dagang dari nusantara. Aceh yang terletak di jalur pelayaran internasional merupakan daerah pertama yang mereka singgahi di Asia Tenggara. Kemudian sekitar akhir abad ke XIII di Aceh telah berdiri sebuah kerajaan besar yaitu Kerajaan Pasai yang bukan saja bandar paling penting bagi perdagangan, namun juga sebagai pusat penyebaran agama Islam baik ke Nusantara maupun luar negeri.
Portugis pertama sekali mendarat di Aceh dalam tahun 1509 mengunjungi Kerajaan Pedir (Pidie) dan Pasai untuk mencari sutra. Kemudian dalam tahun 1511 Portugis menaklukkan Malaka (sekarang Malaysia) yang menyebabkan Sultan Aceh marah. Kerajaan Aceh kemudian mengirim armadanya untuk membebaskan kembali Malaka dari tangan penjajah, namun tidak berhasil dan banyak tentara Kerajaan Aceh yang gugur dan dikebumikan di sana. Menurut sumber yang dapat dipercaya Syech Syamsuddin Assumatrani yaitu salah seorang ulama besar Aceh tewas dalam suatu peperangan dengan Portugis di Malaka dan kuburannya ada disana. -
Kemudian pada masa Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636), barulah Malaka bisa dibebaskan kembali dari cengkraman Portugis dan jalur perdagangan di Selat Malaka kembali dikuasai oleh Kerajaan Aceh Darussalam. Pada saat itu Aceh dan Turki telah menjalin hubungan yang erat sehingga banyak ahli persenjataan dan perkapalan dari Turki datang serta menetap di Aceh. Bukti sejarah yang masih tersisa adalah mesjid, tugu dan batu nisan orang Turki yang ada di desa Bitai (± 3 km dari Banda Aceh).
Pada tanggal 21 Juni 1599 sebuah kapal dagang Belanda yang dipimpin oleh Cornelis De Houteman dan adiknya Frederick De Houteman mendarat di Aceh. Namun karena orang Aceh mengira bahwa Belanda tersebut Portugis mereka menyerang kapal itu dan membunuh Cornelis De Houteman serta menawan Frederick De Houteman.
Selanjutnya tahun 1602 sebuah kapal dagang Belanda lain yang dipimpin oleh Gerald De Roy dikirim ke Aceh oleh Prince Mounsts dalam usaha menjalin hubungan kerjasama dengan Kerajaan Aceh. Utusan tersebut disambut balk oleh Sultan Aceh dan menanda tangani hubungan kerjasama itu. Ketika Gerald De Roy kembali pulang ke Belanda, Sultan Aceh mengirim dua orang duta ke Belanda. Salah satu dari duta tersebut yaitu Abdul Hamid (sumber lain menyebutkan Abdul Zamat) meninggal di Belanda dan kuburannya ada di Middleburg, Belanda.
Pada awal Juni 1602 saudagar-saudagar Inggris dikirim ke Aceh oleh Ratu Elizabeth untuk menjalin kerjasama dalam bidang perdagangan. Utusan tersebut juga disambut baik oleh sultan dan menandatangani hubungan kerjasama. Hubungan ini terns berlanjut sampai bertahun-tahun kemudian.
Namun demikian karena keserakahan V.O.C, Belanda memaklumkan perang atas Kerajaan Aceh Darussalam dan menyerangnya pada tanggal 14 April 1873. Perang antara Belanda dan Aceh merupakan yang terpanjang dalam sejarah dunia yaitu lebih kurang 69 tahun (1873 -1942) yang telah menelan jutaan nyawa.
Pada tahun 1942 Jepang mendarat di Aceh dan disambut baik oleh orang Aceh karena pada waktu itu antara Belanda dan Jepang sating bermusuhan, dan orang Aceh berharap kedatangan Jepang akan membantu mengusir Belanda dari tanah Aceh. Namun kenyataannya sebaliknya bahwa Jepang lebih ganas dari Belanda sehingga orang Aceh merasa ditipu oleh Jepang dan mengangkat senjata memerangi Jepang.
Jepang berada di Aceh hanya 2,5 tahun, namun banyak pertempuran yang terjadi antara Aceh dengan Jepang. Diantara sekian banyak perang yang terjadi, ada dua pertempuran yang sulit untuk dilupakan karena banyaknya korban jiwa yang berjatuhan yaitu di Pandrah (Aceh Utara) dan di Cot Plieng (Aceh Utara). Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 sedikit banyaknya telah membebaskan Aceh dari belenggu perang yang mengenaskan.

HUBUNGAN SEJARAH ACEH & TIONGKOK

Pembangunan Masjid Raya Baiturrahman dilaksanakan oleh seorang pemborong atau kontraktor Tionghoa yang bernama Lie A Sie  Catatan sejarah tertua dan yang pertama mengenai kerajaan kerajaan di Aceh, didapati dari sumber-sumber tulisan sejarah Tiongkok. Dalam catatan sejarah dinasti Liang (506-556), disebutkan adanya suatu kerajaan yang terletak di Sumatra Utara pada abad ke-6 yang dinamakan Po-Li dan beragama Budha. Pada abad ke-13 teks-teks Tiongkok (Zhao Ru-gua dalam bukunya Zhu-fan zhi) menyebutkan Lan-wu-li (Lamuri) di pantai timur Aceh. Dan pada tahun 1282, diketahui bahwa raja Samudra-Pasai mengirim dua orang (Sulaiman dan Shamsuddin) utusan ke Tiongkok.  Didalam catatan Ma Huan (Ying-yai sheng-lan) dalam pelayarannya bersama dengan Laksamana Cheng Ho, dicatat dengan lengkap mengenai kota kota di Aceh seperti, A-lu (Aru), Su-men-da-la (Samudra), Lan-wu-li (Lamuri). Dalam catatan Dong-xi-yang- kao (penelitian laut-laut timur dan barat) yang dikarang oleh Zhang Xie pada tahun 1618, terdapat sebuah catatan terperinci mengenai Aceh modern.
Samudra-Pasai adalah sebuah kerajaan dan kota pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari Timur TengahIndia sampai Tiongkok pada abad ke 13 -16. Samudra Pasai ini terletak pada jalur sutera laut yang menghubungi Tiongkok dengan negara-negara Timur Tengah, dimana para pedagang dari berbagai negara mampir dahulu /transit sebelum melanjutkan pelayaran ke/dari Tiongkok atauTimur TengahIndia.  Kota Pasai dan Perlak juga pernah disinggahi oleh Marco Polo (abad 13) dan Ibnu Batuta (abad 14) dalam perjalanannya ke/ dari Tiongkok. Barang dagangan utama yang paling terkenal dari Pasai ini adalah lada dan banyak diekspor ke Tiongkok, sebaliknya banyak barang-barang Tiongkok seperti Sutera, Keramik, dll. diimpor ke Pasai ini. Pada abad ke 15, armada Cheng Ho juga mampir dalam pelayarannya ke Pasai dan memberikan Lonceng besar yang tertanggal 1409 (Cakra Donya) kepada raja Pasai pada waktu itu.  Samudra Pasai juga dikenal sebagai salah satu pusat kerajaan Islam (dan Perlak) yang pertama di Indonesia dan pusat penyebaraan Islam keseluruh Nusantara pada waktu itu. Ajaran-ajaran Islam ini disebarkan oleh para pedagang dari Arab (Timur Tengah) atau Gujarat (India), yang singgah atau menetap di Pasai.  Dikota Samudra Pasai ini banyak tinggal komunitas Tionghoa, seperti adanya "kampung Cina", seperti ditulis dalam Hikayat Raja-raja Pasai. Jadi jauh sebelum kerajaan Aceh Darussalam berdiri,komunitas Tionghoa telah berada di Aceh sejak abad ke-13. Karena Samudra Pasai ini terletak dalam jalur perdagangan dan pelayaran internasional serta menjadi pusat perniagaan internasional, maka berbagai bangsa asing lainnya menetap dan tinggal disana yang berkarakter kosmopolitan dan 

Kamis, 15 Maret 2012

Tenun Aceh



Desa Miruk Taman penghasil songket Aceh yang dibuat secara manual (pakai tangan), kelompok SPP Taman Indah yang didanai oleh Pinjaman kelompok perempuan dari dana PNPM-MP Kecamatan Darussalam kabupaten Aceh Besar, Selain songket Aceh juga kelompok Taman Indah ada usaha Rumput Hias yang dibudi daya oleh para anggota kelompok SPP




Senin, 12 Maret 2012

Pengurus UPK Darsa

VISI
: Mensejahterakan dan kemandirian masyarakat    
  khusunya Rumah Tangga Miskin dalam    
  Kecamatan Darussalam
MISI
:- Memberdayakan masyarakat dan lembaga- 
   lenbaga  Tingkat Gampong
-   Memberdayakan kelompok-kelompok usaha  
  lemah khususnya kelompok ekonomi 
  perempuan sebagai penunjang pendapatan

Alamat Jl. Lambaro Angan-Kompleks Kantor Camat
Kecamatan. Darussalam Kab. Aceh Besar
upkdarussalam.blogspot.com

Kecamatan Darussalam,Kab. Aceh Besar Prov Aceh terdiri dari 29 desa, dengan jumlah penduduk 22.766 jiwa terdiri dari Laki-laki 11,087 jiwa dan perempuan 11.679 jiwa, 5.129 KK. Sebanyak 8.383 KK (48.5 %)  dikategorikan keluarga miskin. Mata pencaharian masyarakatnya mayoritas adalah Petani, Pedagang Kecil, Home Indrustri Dan potensi sumberdaya alam yang potensial adalah  Hasil Pertanian dan Home Industri  Adapun produk unggulannya adalah, songket/Kasab Aceh, batu-bata.
Kecamatan ini terletak di arah Timur dari ibukota kabupaten dan  Barat dari arah ibukota Provinsi Aceh Dapat dijangkau dengan jalan darat/laut/udara dari ibukota provinsi selama kurang lebih 20 menit
Kecamatan ini telah berpartisipasi dalam PPK sejak tahun 2000, dan s/d 2006, tahun 2007 PNPM-PPK dan tahun 2009 sampai saat ini PNPM-MPd. Alokasi Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) sejak tahun 1999 s/d 2011 Rp. 11.690.000.000 dengan rincian sebagaiberikut:

  No
Tahun Anggaran
Sumber Dana
Jumlah
1
2000-2001
BLM
1.000.000.000
2
2001-2002
BLM
1.000.000.000
3
2002-2004
BLM
1.000.000.000
4
2005-2006
MDF
2.000.000.000
5
2006-2007
AUSAID
900.000.000
6
2006-2007
BRA
2.020.000.000
7
2007-2008
BRR
970.000.000
8
2009
PNPM-MP
800.000.000
9
2010
PNPM-MP
750.000,000
10
2011
PNPM-MP
1.250.000.000
10
2012
PNPM-MP
700.000.000
Total
12.390.000.000